Selasa, 13 Mei 2014

faktor-faktor dalam strategi pembelajaran



FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SISTEM  PEMBELAJARAN
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas Kuliah
Mata Kuliah :Strategi Pembelajran PAI
Dosen Pengampu :Mohtarom, M. Pd. I

Disusun oleh:
Hubbal Haqqoh         (112302)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH (PAI)
2014





FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SISTEM PEMBELAJARAN

A.      PENDAHULUAN
Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Ketika berpikir informasi dan kemampuan apa yang harus dimiliki siswa, maka pada saat itu juga semestinya berpikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat tercapai secara efektif dan efisien.Dalam sebuah pembelajran pada jenjang pendidikan dasar, menengah, maupun tinggi diperlukan pemilihan strategi pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran tercapai dengan maksimal.Adakalanya tujuan pembelajaran tidak tercapai sebagaimana yang diharapkan karena pengajar kurang pandai dalam memilih strategi pembelajaran untuk anak didiknya.Ketidak tercapainya tujuan pembelajaran itu bukan berarti disebabkan oleh faktor pengajar.
Pemilihan strategi pembelajaran memuat dua hal yang amat penting, yakni pemilihan strategi belajar yang harus dilakukan peserta didik dan pemilihan strategi mengajar yang harus dilakukan pengajar. Strategi mengajar mengacu pada perilaku dan proses berfikir yang dilakukan peserta didik yang dapat mempengaruhi apa yang dipelajari, termasuk proses memori dan metakognitif. Sedangkan, strategi mengajar berkaitan dengan pendekatan, metode, dan teknik yang dikuasi dan digunakan pengajar dalam proses pembelajaran. Kualitas proses pembelajaran merupakan salah satu titik tolak ukur yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Perlu penulis tegaskan di sini bahwa ukuran berkualitas atau tidaknya suatu sekolah adalah relatif, karena tolak ukur yang digunakan terus menerus akan senantiasia mengalami perubahan sesuai dengan perubahan tantangan era atau zaman. Bisa jadi suatu saat tolak ukur keberhasilan sebuah pembelajaran adalah apabila dalam proses pembelajaran seorang guru menggunakan teknologi canggih, namun kemudian hari timbul antitesis tentang pernyataan tersebut sehingga terjadilah perubahan tolak ukur tersebut.Di sisi lain kualitas dan  profesionalitas guru juga penting karena bagaimanapun bagusnya dan lengkapnya strategi atau metode, sarana prasarana, tujuan pembelajaran, dan canggihnya teknologi pembelajaran jika tidak diimbangi dengan kulaitas guru yang mumpuni maka hal tersebut akan tidak memiliki efek yang signifikan bagi kualitas pembelajaran.

.
Banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan strategi pembelajaran dan hal itu harus benar-benr di perhatikan oleh orang-orang yang terlibat dalam proses pembelajaran baiak langsung maupunn tidak langsung. Oleh karena itu, pengajar dituntut untuk memepunyai kemampuan yang cukup dalam memilih strategi pembelajaran bagi anak didiknya. Oleh karena itu pembelajaran dapat dikatakan mencapai taraf berhasil jika telah mencapai faktor-faktor yang mempengaruhi dalam system pembelajaran, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi system pembelajaran akan dijelaskan berikut ini.

B.       RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah diatas ada beberapa masalah yang telah kami rumuskan dan nanatinya akan kami bahas dalam makalah ini, masalah tersebut antara lain:
1.      Apa yang dimaksud dengan sistem pembelajaran?
2.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pembelajaran?

C.      PEMBAHASAN

1.      Pengertian sistem pembelajaran.
Undang-undang sistem pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidikan dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.[1] Berdasarkan konsep tersebut, dalam kata pembelajaran terkandung dua kegiatan yaitu belajar dan mengajar, kemudian antara belajar dan mengajar dengan pendidikan bukanlah sesuatu yang terpisah dan bertentangan. Justru proses pembelajaran merupakan aspek yang terintegrasi dari proses pendidikan.[2] Terkait dengan proses pembelajaran, guru tentunya sangat berperan penting dalam keberhasilan sebuah proses belajar mengajar. Aturan yang harus dijalankan oleh guru adalah harus memahami materi pelajaran yang akan diajarkan sebagai suatu pelajaran yang yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa dan memahami model-model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru.
     Pembelajaran merupakan kegiatan yang bertujuan untuk membelajarkan siswa. Pembelajaran yang berkaitan dengan bagaimana (how do), membelajarkan siswa atau bagaimana membuat siswa dapat belajar dengan mudah dan terdorong oleh kemauanya sendiri untuk mempelajari apa (what to) yang teraktualisasikan dalam kurikulum sebagai kebutuhan (needs) peserta didik.[3]
     Pembelajaran berasal dari kata “belajar” yang berarti adanya perubahan pada diri seseorang perubahan yang dimaksud adalah perubahan pada segi kognitif, afektif dan psikomotorik. Pembelajaran merupakan kegiatan guru secara terpogram dalam desain intruksional untuk membuat ketika belajar secara aktif maupun kreatif, yang menekanakan pada penyediaan sumber belajar untuk peserta didik agar mencapai tujuan yang diinginkan.[4] Sedangkan menurut Sudjana (2003), pembelajaran merupakan semua upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik kepada peserta didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran.[5]
     Dari berbagai definisi diatas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagi hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi lingkunganya. Dalam hal ini pembelajaran dilakukan sengaja oleh pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, mengorganisasi dan menciptakan system lingkungan dengan berbagai metode sehingga peserta didik dapat melakukan kegiatan belajar dan memperoleh hasil optimal seperti halnya dalam perubahan tingkah laku.
     Sedangkan pengertian dari sistem itu sendiri mempunyai banyak arti diantaranya sebagai berikut:
a.       Sistem adalah suatu kebulatan secara keseluruhan yang kompleks atau terorganisir, yakni suatu himpunan atau perpaduan mengenai hal-hal bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan yang menyeluruh secara kompleks atau utuh, yang menekankan pada soal wujud sistem itu sendiri.
b.      Sistem merupakan himpunan komponen yang saling berkaitan bersama-sama fungsi untuk mencapai suatu tujuan. Menaruh perhatian pada fungsi komponen yang saling berkaitan dan tujuan sistem
c.       Sistem merupakan sehimpunan komponen atau subsistem yang terorganisirkan dan berkaitan sesuai dengan rencana untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Yang menampilkan unsur rencana disamping saling berkaitanya antar komponen dan tujuan dari sistem itu sendiri.[6]
Meskipun penjelasan diatas berbeda-beda tapi mengandung unsur persamaan yang dapat dipandang sebagi ciri umum dari system yaitu yang mencakup hal-hal sebagi berikut:
·         Sistem merupakan suatu kesatuan yang terstruktur
·         Kesatuan tersebut terdiri dari sejumlah komponen yang saling berpengaruh
·         Dan, masing-masing komponen tersebut mempunyai fungsi tertentu dan secara bersama-sama melaksanakan fungsi struktur, yaitu mencapai tujuan sistem.
Dengan demikian sistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan integral dari sejumlah komponen. Oleh sebab itu sistem merupakan proses untuk mencapai tujuan melalui pemberdayaan komponen-komponen yang membentuknya, makasistem erat kaitanya dengan perencanaan.Sedangkan perencanaan itu sendiri adalah pengambilan keputusan bagaimana memberdayakan komponen agar tujuan berhasil dengan sempurna. Apabila seluruh komponen yang membentuk sistem bekerja sesuai dengan fungsinya, mak tujuan yang telah ditentukan akan tercapai secara optimal.
     Kemudian, pembelajaran dikatakan sebuah sistem karena pembelajaraan merupakan kegiatan yang bertujuan membelajarkan siswa. Proses pembelajaran itu merupkan rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai komponen sehingga setiap pendidik  harus memahami sistem pembelajaran melalui pemahaman tersebut.
     Sistem dalam pembelajaran bermanfaat untuk merancang atau merencanakan suatu proses pembelajaran. Perencanaan merupakan proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapakan. Oleh sebab itu proses perencanaan yang sistematis dalam proses pembelajaran mempunyai beberapa keuntungan diantaranya sebagai berikut:
                                            1.            Melalui sistem perencanaan yang matang guru dapat terhindar dari keberhasialan secara untung-untungan. Sistem memiliki peran yang kuat dalam keberhasialan suatu proses pembelajaran karena memang perencanaan disusun untuk mencapai hasil yang optimal.
                                            2.            Melalui sistem perencanaan yang sistematis, setiap guru dapat menggambarkan berbagai hambatan yang mungkin akan dihadapi. Sehingga dapat menentukan berbagai strategi yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan
                                            3.            Melalui sistem perencanaan, guru dapat menentukan berbagai langkah dalam memanfaatkan berbagai sumber dan fasilitas yang ada untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Strategi Pembelajaran
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan sistem pembelajaran di antaranya faktor guru, faktor siswa, faktor sarana dan prasarana yang tersedia,dan  faktor lingkungan.

a.      Faktor guru
Keberhasilan suatu sistem pembelajaran, guru merupakan komponen yang menentukan.Hal ini disebabkan guru merupakan orang yang secara langsung berhadapan dengan siswa.Dalam system pembelajaran guru bisa berperan sebagai perencana atau desainer pembelajaran, sebagai mativator maupun implementator.Sebagai perencana guru dituntut untuk memahami secara benar kurikulum yang berlaku, karakteristik siswa, fasilitas dan sumber daya yang ada, sehingga semuanya dijadikan komponen-komponen dalam menyusun rencana dan desain pembelajaran.
Guru merupakan komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Tanpa guru, bagaimanapun bagus dan idealnya suatu strategi, maka strategi itu tidak mungkin dapat diaplikasikan. Layaknya seorang prajurit di medan pertempuran. Keberhasilan penerapan strategi berperang untuk menghancurkan musuh akan sangat bergantung kepada kualitas prajurit itu sendiri. Demikian juga dengan guru, keberhasilan implementasi suatu strategi pembelajaran akan ter­gantung pada kepiawaian guru dalam menggunakan metode, teknik, dan taktik pembelajaran. Diyakini, setiap guru akan memiliki pengalaman, pengetahuan, kemampuan, gaya, dan bahkan pandangan yang berbeda dalam mengajar. Guru yang menganggap mengajar hanya sebatas me­nyampaikan materi pelajaran, akan berbeda dengan guru yang mengang­gap mengajar adalah suatu proses pemberian bantuan kepada peserta didik. Masing-masing perbedaan tersebut dapat memengaruhi baik dalam penyusunan strategi atau implementasi pembelajaran.
Guru, dalam proses pembelajaran memegang peran yang sangat pen­ting. Peran guru, apalagi untuk siswa pada usia pendidikan dasar, tidak mungkin dapat digantikan oleh perangkat lain, seperti televisi, radio, kom­puter, dan lain sebagainya. Sebab, siswa adalah organisme yang sedang berkembang yang memerlukan bimbingan dan bantuan orang dewasa. Dalam proses pembelajaran guru bukanlah hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarnya, akan tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran (manager of learning).[7] Dengan demikian, efektivitas proses pembelajaran terletak di pundak guru. Oleh karenanya, keber­hasilan suatu proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas atau kemampuan guru. Norman Kirby (1981) menyatakan: "One underlying emphasis should be noticeable: that the quality of the teacher is the essential, constant feature in the success of any educational system". Menurut Dunkin (1974), ada sejumlah aspek yang dapat memenga­ruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru, yaitu: "teacher formative experience, teacher training experience and teacher properties". Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua penga­laman hidup guru yang menjadi latar belakang sosial mereka. Yang terma­suk ke dalam aspek ini di antaranya, meliputi tempat asal kelahiran guru termasuk suku, latar belakang budaya dan adat istiadat, keadaan keluarga dari mama guru itu berasal, misalkan apakah guru itu berasal dari keluarga yang tergolong mampu atau tidak apakah mereka berasal dari keluarga harmonis atau bukan.
Teacher properties, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru, misalnya sikap guru terhadap profesinya, sikap guru terhadap siswa, kemampuan atau inteligensi guru, motivasi dan kemampuan mereka baik kemampuan dalam pengelolaan pembelajaran termasuk di dalamnya kemampuan dalam merencanakan dan evaluasi pembelajaran maupun kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran.
b.      Faktor Peserta Didik (Siswa)
Peserta didik merupakan subjek utama dalam pross pembelajaran, maka dari itu pengajar harus dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat serta memperhatikan karakteristik peserta didik siswa juga memiliki karakteristik dan perbedaan satu sama lain, mulai dari fisik, gaya belajar, motivasi belajar, kecerdasan, orientasi bersekolah, cita-cita, dan berbagai perbedaan lain.[8] Karakteristik peserta didik Antara lain sebagai berikut:
·         Kematangan mental dan kecakapan intelektual.
Setiap peserta didik mempunyai karakteristik yang unik dan berbeda satu sama lain. Kematangan dan kecakapan intelektual yang dimiliki juga berbeda, meskipun ditinjau dari aspek usia sejajar atau sama. Oleh karena itu strategi yang digunakan harus benar-benar bermanfaat sesuai dengan tingkat kematangan dan kecakapan intelektual.Tingkat kematangan dan kecakapan intelektual yang mumpuni berdampak positif terhadap penerapan strategi pembelajaran yang digunakan.
·         Kondisi Fisik dan kecakapan Psikomotorik
Pemilihan strategi pembelajaran juga disesuaikan dengan kondisi fisik dan kecakapan psikomotor peserta didik.Kecakapan psikomotor meliputi, gerakan-gerakan jasmani, seperti kekuatan fisik, kecepatan, koordinasi, dan flesibilitas.
·         Umur
Umur merupakan hal yang perlu dipertimbangkan dalam peilihan strategi pembelajaran. Strategi pembeajaran untuk peserta didik usia 7-12 tahun tentu berbeda denga peserta didik yang berusia 15-17 tahun.
·         Jenis Kelamin
Meskipun dalam pelaksanaan proses pembelajaran tidak ada perbedaan Antara peserta didik Antara laki-laki dan perempuan, namun dalam hal-hal tertentu terdapat perbedaan, misalnya minat, kebiasaan, kecakapan, psikomotor dan perhatian
          Perbedaan jenis kelamin dalam pembelajaran merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran yang akan dipakai.[9]

c.       Faktor sarana dan prasarana
Media pembelajaran merupakan konsep-konsep yang masih konkrit dalam sebuah pembelajaran. Konsep yang maish abstrak dan sulit dijelaskan kepada siswa secara langsung, yang bias dikonkritkan atau disederhanakan melalui pemanfaatan media pembelajaran[10]
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya:
a.       Media pembelajaran,
b.      Alat-alat pelajaran,
c.       Perlengkapan sekolah.
Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misalnya:
a.       Jalan menuju sekolah,
b.      Penerangan sekolah,
c.       Kamar kecil dan lain sebagainya.
Adapun keuntungan yang didapat siswa maupun guru dari  sekolah yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana adalah sebagai berikut:
a.       Kelengkapan sarana dan prasarana dapat menumbuhkan gairah dan motivasi guru mengajar.
b.      Kelengkapan sarana dan prasarana dapat memberikan berbagai pilihan pada siswa untuk belajar.

d.      Faktor lingkungan
Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor yang dapat mempenga­ruhiproses pembelajaran, yaitu faktor organisasi kelas dan faktor iklim sosial-psikologis.[11] Faktor organisasi kelas yang di dalamnya meliputi jumlah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang dapat memengaruhi proses pembelajaran. Organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kelompok belajar yang besar dalam satu kelas berkecenderungan yang akan mengakibatkan sebagai berikut:
a.       Sumber daya kelompok akan bertambah luas sesuai dengan jumlah siswa sehingga waktu yang tersedia akan semakin sempit.
b.      Kelompok belajar akan kurang  mampu memanfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada. Misalnya, dalam penggunaan waktu diskusi jumlah siswa yang terlalu banyak akan memakan waktu yang banyak pula, sehingga sumbangan pikiran akan sulit didapatkan dari setiap siswa.
c.       Kepuasan belajar setiap siswa akan cenderung menurun. Hal ini disebabkan kelompok belajar yang terlalu banyak akan mendapatkan pelayanan yang terbatas dari setiap guru, dengan kata lain perhatian guru akan semakin terpecah.
d.      Perbedaan individu antara anggota akan semakin tampak, sehingga akan semakin sukar mencapai kesepakatan. Kelompok yang terlalu besar cenderung akan terpecah ke dalam sub-sub kelompok yang saling bertentangan.
e.       Anggota kelompok yang terlalu banyak berkecenderungan akan se­makin banyak siswa yang terpaksa menunggu untuk sama-sama maju mempelajari materi pelajaran baru.
f.       Anggota kelompok yang terlalu banyak akan cenderung semakin banyaknya siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam setiap ke­giatan kelompok.
Memperhatikan beberapa kecenderungan di atas, maka jumlah ang­gota kelompok besar akan kurang menguntungkan dalam menciptakan iklim belajar mengajar yang baik. Faktor lain dari dimensi lingkungan yang dapat memengaruhi proses pembelajaran adalah faktor iklim sosial-psikologis, maksudnya adalah keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pem­belajaran. Iklim sosial ini dapat terjadi secara internal atau eksternal.Iklim sosial-psikologis secara internal, adalah hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkungan sekolah, misalnya iklim sosial antara siswa dengan siswa antara siswa dengan guru antara guru dengan guru bahkan antara guru dengan pimpinan sekolah.Iklim sosial-psikologis eksternal adalah keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubung­an sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat, dan lain sebagainya. Sekolah yang memiliki hubungan yang baik secara internal, yang ditunjukkan oleh kerja sama antar guru, saling menghargai dan saling membantu, maka memungkinkan iklim belajar menjadi sejuk dan tenang sehingga akan berdampak pada motivasi belajar siswa. Sebaliknya, mana­kala hubungan tidak harmonis, iklim belajar akan penuh dengan kete­gangan dan ketidaknyamanan sehingga akan memengaruhi psikologis siswa dalam belajar. Demikian juga sekolah yang memiliki hubungan yang baik dengan lembaga-lembaga luar akan menambah kelancaran program-program sekolah sehingga upaya-upaya sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran akan mendapat dukungan dari pihak lain.

D.      Critical Thinking
Setelah kami uraikan maka kami dapat sebuah pemikiran bahwa sebuah system sistem karena pembelajaraan merupakan kegiatan yang bertujuan membelajarkan siswa. Proses pembelajaran itu merupkan rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai komponen sehingga setiap pendidik  harus memahami sistem pembelajaran melalui pemahaman tersebut. Bahwa sistem dalam pembelajaran tersebut bermanfaat untuk merancang atau merencanakan suatu proses pembelajaran. Perencanaan merupakan proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapakan.mengenai faktor-faktor yang memepengaruhi sitem pembelajaran agar menacapai suatu keberhasilan, maka secara garis besar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor Antara lain faktor guru, peserta didik (siswa), sarana dan prasana dan faktor lingkungan.Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper).Menurut penulis faktor-faktor tersebut merupakan komponen pendidikan yang satu diantara yang lain saling berhubungan dan menunjang, karena apabila salah satu diantara unsur tersebut tidak memenuhi standar kualitas  pendidikan, maka kemungkinan besar kualitas pembelajaran tidak akan tercapai secara optimal.

E.       PENUTUP
1.      Kesimpulan
Dari pembahasan makalah diatas, ada beberapa point penting yang dapat kami simpulkan diantaranya:
1.      System pembelajaran merupakan proses untuk mencapai tujuan.Sedangkan perencanaan itu sendiri adalah pengambilan keputusan bagaimana memberdayakan komponen agar tujuan berhasil dengan sempurna. Apabila seluruh komponen yang membentuk sistem bekerja sesuai dengan fungsinya, maka tujuan yang telah ditentukan akan tercapai secara optimal. Pembelajaran dikatakan sebuah sistem karena pembelajaraan merupakan kegiatan yang bertujuan membelajarkan siswa. Sistem dalam pembelajaran bermanfaat untuk merancang atau merencanakan suatu proses pembelajaran.
2.      Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kualits pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.      Faktor guru
2.      Faktor siswa (peserta didik)
3.      Faktor sarana dan prasarana
4.      Faktor lingkungan.
Dari beberapa faktor diatas, komponen yang selama ini dianggap sangat mempengaruhi proses pendidikan adalah guru. Sebab guru merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa sebagai subjek dan objek belajar. Bagaimanapun bagus dan idealnya kurikulum pendidikan, bagaimanapun lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran, tanpa diimbangi dengan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya, maka semuanya akan kurang bermakna.
2.      Kalimat Penutup
Demikianlah pemaparan materi yang daapt kami susun dalam makalah ini, kami menyadari masih banyak kekurangan didalamnya. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik konstruktif  dari para pembaca. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat khsusnya bagi para penyusun dan umumnya bagi para pembaca budiman. Amiiiin


F.       DAFTAR PUSTAKA
Dadang Sunendar dan Iskandarwassid, Strategi Pembelajaran Bahasa, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011.
Fattah, Nanang. 2012. Analisis Kebijakan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hisyatam, 2002.Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi.Yogyakarta: Center for Teaching Staff Development (CTSD) dan IAIN Sunan Kalijaga.
Hamzah B. Uno Belajar dengan Pendekatan PAILKEM:Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik (Jakarta: Bumi Aksara, 2011),
M.Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 1990.
Nini subini, Psikologi Pembelajaran, Yogyakarta, Mentari Pustaka, 2012.
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2001.
Muhammad Rahman, strategi dan desain pengembangan system pembelajaran, Jakarta, prestasi pustkaraya, 2013.
Muhammad Rahman, Strategi Dan Desain Pengembangan Dan System Pembelajaran, Jakarta, prestasi pustakaraya, 2013.
Rudi Susilana, Media Pembelajaran, Bandung, CV. Wacana Prima.
Rahman, Muhammad dan Sofan Amri. 2013. Strategi dan Desain Pengembangan Sistem Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustakarya.
Sunendar, Dadang dan Iskandarwassid. 2011. Strategi pembelajaran Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Saiful Sagala, Konsep Dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar Mengajar, Alfabeta, Bandung: 2008.
Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, 197-201.
Susanti, Rini Dwi. 2011. Strategi Pembelajaran Bahasa. Kudus: Nora Media Enterprise
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Wijaya, Cece dan Tabrani Rusyan.1992. Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran.Bandung: Remaja Rosdakarya


[1].Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
[2]Saiful Sagala, Konsep Dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar Mengajar, Alfabeta, Bandung: 2008. Hal. 62.
[3]Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2001, hal. 145.
[4]M.Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 1990. Hal. 102.
[5]Nini subini, Psikologi Pembelajaran, Yogyakarta, Mentari Pustaka, 2012, hal.6.
[6]Muhammad Rahman, strategi dan desain pengembangan system pembelajaran, Jakarta, prestasi pustkaraya, 2013. Hal. 2.
[7].muhammad rahman, strategi dan desain pengembangan dan system pembelajaran, Jakarta, prestasi pustakaraya, 2013, hal. 4.
[8] .Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohammad, Belajar dengan Pendekatan PAILKEM:Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 198-202.
[9]Dadang Sunendar dan Iskandarwassid, Strategi Pembelajaran Bahasa, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011, hlm. 169.
[10].Rudi Susilana, Media Pembelajaran, Bandung, CV. Wacana Prima.Hal. 10.
[11].Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, 197-201.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar